Laman

Minggu, 16 Juni 2013

Agus Belum Dilapori Anak Buah




Agus Belum Dilapori Anak Buah
Agus Belum Dilapori Anak Buah





banjarmasinpost.co.id, banjarmasin - tragis.
selama tujuh tahun, seorang warga banjarmasin, syaiful bahri (56) harus tinggal di bekas kandang ayam.
bagi sosiolog dari universitas lambung mangkurat (unlam) wahyu ms, hal tersebut merupakan potret ketidakberpihakan pemko banjarmasin terhadap masyarakat kelas bawah.
kepada bpost, sabtu (15/6) dia mengatakan, hiruk pikuk pembangunan dan diskusi-diskusi tentang pengentasan kemiskinan, tidak berimbas di lapangan.
pemerintah kerap tidak langsung 'turun' menyapa warganya.
tragisnya, lebih percaya laporan anak buah yang sering 'abs' (asal bapak senang).
"keberadaan syaiful masih dalam radius tengah kota banjarmasin yang merupakan ibu kota kalsel.
sejauh mana kepedulian rt dan rw memberi apresiasi dengan melaporkan kepada instansi di atasnya.
syaiful hanya salah satu contoh, mungkin masih banyak yang lain," ujar dia.
wahyu menyarankan, pemko melakukan survei ulang untuk memetakan kondisi warganya.
selain itu, harus benar-benar melaksanakan program pemberdayaan dan pengucuran modal usaha sebagai upaya pengentasan kemiskinan.
seperti diberitakan koran ini edisi kemarin, di usia tuanya syaiful harus hidup sendirian di bekas kandang ayam di depan mapolsekta banjarmasin utara.
bangunan reyot penuh lubang itu berada di lahan kosong yang agak jauh dari permukiman.
saat dihubungi, kepala dinsos banjarmasin, agus surono mengaku belum mengetahuinya.
dia pun meminta waktu untuk menanyakan kepada anak buahnya.
setelah beberapa jam, saat dihubungi lagi, dia tidak mengangkat ponsel dan membalas sms.
          sementara sekdako banjarmasin, zulfadli  gazali menyatakan akan meminta dinsos melihat kondisi syaiful.
saat koran ini kembali mengunjunginya, syaiful sedang bertemu empat orang yang biasa memancing di sekitar rumahnya.
dia mengatakan, sejak tinggal di situ, baru tiga kali 'perwakilan pemerintah' yang berkunjung.
"yang pertama waktu menyerahkan ktp elektronik, kemudian waktu menempel stiker daftar pemilu dan saat meminta fotokopi kartu keluarga," kata pria yang akrab disapa amang iful ini.
sementara salah seorang warga mengatakan para tetangga beberapa kali memberi bantuan baik berupa bahan makanan maupun uang ke syaiful, karena iba.
"untuk bantuan dari pemerintah, sepengetahuan saya tidak pernah ada," katanya.
(hh/has)


Source from: banjarmasin[dot]tribunews[dot]com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.